<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Future was Over Here</title>
	<atom:link href="http://blog.iqbal.or.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.iqbal.or.id</link>
	<description>I want to ride the wind… conspire with the blast… breathe in the wisdom…</description>
	<lastBuildDate>Sat, 02 Jan 2010 15:21:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menjadikan Gus Dur Pahlawan Nasional</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2010/01/02/menjadikan-gus-dur-pahlawan-nasional/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2010/01/02/menjadikan-gus-dur-pahlawan-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 15:16:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[gus dur]]></category>
		<category><![CDATA[pahlawan nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbal.or.id/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Sesaat setelah berita wafatnya Gus Dur saya terima dari adik saya yang menjadi santri di Ciganjur, seorang teman dari NU meminta saya untuk menginisiasi sebuah group di facebook mendukung Gus Dur menjadi pahlawan nasional. Sebagai pengagum pemikiran dan kiprah beliau, saya tentunya setuju dengan ide tersebut. Namun saya mengatakan tidak mau membuat group tersebut, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_214" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://blog.iqbal.or.id/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.net_.jpg"><img class="size-medium wp-image-214" title="gusdur.net" src="http://blog.iqbal.or.id/wp-content/uploads/2010/01/gusdur.net_-300x152.jpg" alt="gus dur" width="300" height="152" /></a><p class="wp-caption-text">sumber foto: www.gusdur.net</p></div>
<p>Sesaat setelah berita wafatnya Gus Dur saya terima dari adik saya yang menjadi santri di Ciganjur, seorang teman dari NU meminta saya untuk menginisiasi sebuah group di facebook mendukung Gus Dur menjadi pahlawan nasional. Sebagai pengagum pemikiran dan kiprah beliau, saya tentunya setuju dengan ide tersebut. Namun saya mengatakan tidak mau membuat group tersebut, tapi saya siap join di group tersebut jika dibentuk. Saya jadi ingat saat dulu ada wanita (yang sekarang menjadi istri saya) menyuruh saya untuk membuat group SMA 2 Kediri. Saya tidak membuatnya. Akhirnya dia sendiri yang membuat group yang sekarang telah diisi sekitar 2000 member tersebut. Dan, tentu saja saya ikut join. Hehehe.</p>
<p>Ada beberapa alasan saya tidak bersedia membuat group mendukung menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Selain saya merasa tidak pantas menginisiasi tugas mulia tersebut, apalagi harus menjadi juru bicara jika ada media yang menanyakan seperti inisiator koin untuk prita (ah, kejauhan kali mikirnya, hehehe), ada sesuatu yang agak mengganjal di pikiran saya.<span id="more-213"></span></p>
<p>Ada beberapa kemungkinan seseorang yang telah meninggal dihidupkan kembali melalui berbagai bentuk: predikat, patung, nama jalan, dll. Kemungkinan pertama adalah kemungkinan baik yaitu: untuk menghidupkan gagasan, pikiran, semangat perjuangan seseorang. Atau juga untuk menjaga persatuan di mana tokoh tersebut menjadi pengikatnya. Kemungkinan lain (yang saya tidak tahu ini baik atau tidak) adalah  memanfaatkan ketokohan seseorang untuk kepentingan politik tertentu. Salah satunya, pamor tokoh yang telah meninggal terbukti dapat menaikkan siapapun yang terkait dengannya. Presiden kelima kita adalah buktinya.</p>
<p>Kabarnya PKB, PPP, PDI-P, bahkan PD termasuk yang mengusulkan/setuju memberikan predikat pahlawan nasional kepada Gus Dur. Selama masih hidup, Gus Dur memang selalu diperebutkan banyak kalangan untuk mendulang suara. Begitu masifnya rakyat yang ikut hanyut dalam suasana wafat beliau rupanya telah menjadi modal politik yang layak ditabung. Saya tidak begitu rela nama besar Gus Dur dimanfaatkan dengan cara seperti itu, walaupun itu sah-sah saja. Mungkin akan rela kalau untuk kepentingan politik positif, membangun bangsa dan negara. Tapi mata dan telinga saya menyangsikan itu.</p>
<p>Menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional juga tidak seharusnya untuk pengkultusan individu. Bagaimanapun juga, Gus Dur juga manusia biasa yang tentunya bisa berbuat kesalahan, yang walaupun bagi pengikut fanatiknya selalu bisa dicari pembenarannya. Meski begitu, Gus Dur adalah kebanggaan. Bahkan mungkin terlalu kecil gelar pahlawan nasional dibandingkan dengan kiprah beliau yang pengaruhnya menjangkau dunia.</p>
<p>Istri saya (yang entah kesambet apa beberapa tahun terakhir tidak suka sama Gus Dur, hehehe) bertanya: &#8220;Emang apa jasa Gus Dur sehingga layak disebut pahlawan nasional?&#8221;. Well, banyak orang yang berjasa bagi negara. Tapi layak disebut pahlawan nasional jika jasanya punya pengaruh luas. Gus Dur adalah salah satunya. Pemikiran beliau, kiprah beliau dalam menjaga keharmonisan hidup berbangsa yang majemuk dan rawan konflik ini tak dapat dinafikan. Beliau ulama yang pertama kali memperjuangan nasib perempuan, di tengah dominasi laki-laki yang dinikmati ulama lainnya. Beliau yang berani di depan melawan Soeharto saat yang lain banyak yang bungkam.  Masih banyk hal lain tentunya yang telah dilakukan oleh beliau. Terlepas dari kelemahan dan kontroversi yang ada, beliau layak menyandang predikat pahlawan nasional.</p>
<p>Oke lah kalau begitu, walau saya berbeda dengan istri saya, saya suka Gus Dur dia tidak, saya suka Rhoma dia tidak, yang penting saya suka dia dan dia suka saya. Hehehe.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2010/01/02/menjadikan-gus-dur-pahlawan-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>BCA = Bank Cyariah Asia</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/10/26/bca-bank-cyariah-asia/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/10/26/bca-bank-cyariah-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 08:24:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Central Asia]]></category>
		<category><![CDATA[BCA]]></category>
		<category><![CDATA[Fee based income]]></category>
		<category><![CDATA[Salim]]></category>
		<category><![CDATA[Syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.iqbal.or.id/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Konon menurut cerita dari seorang &#8220;pendekar yang suka bergerilya&#8221;, awal tahun 1990-an, Antony Salim bertemu  Cacuk  Sudarijanto yang saat itu menjadi Direktur Utama Telkom. Antony ingin menyewa transponder satelit milik Telkom. Saat itu Cacuk penasaran (kalau tidak bisa dikatakan curiga) dan tidak serta merta mengijinkan hal tersebut. Antony tidak mau mengatakan untuk apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Konon menurut cerita dari seorang &#8220;pendekar yang suka bergerilya&#8221;, awal tahun 1990-an, Antony Salim bertemu  Cacuk  Sudarijanto yang saat itu menjadi Direktur Utama Telkom. Antony ingin menyewa transponder satelit milik Telkom. Saat itu Cacuk penasaran (kalau tidak bisa dikatakan curiga) dan tidak serta merta mengijinkan hal tersebut. Antony tidak mau mengatakan untuk apa dia sewa satelit, sebuah mesin vital dan mahal. Tapi Antony menjamin bahwa apa yang akan dia lakukan tidak akan melawan hukum. Akhirnya cacuk setuju.<span id="more-188"></span></p>
<p>Teka-tekipun akhirnya terungkap. Ternyata Antony sedang mempersiapkan ribuan ATM (Anjungan Tunai Mandiri &#8211; <em>Automated Teller Machine</em>) untuk BCA (Bank Central Asia). Dia membutuhkan satelit sebagai jalur komunikasi ATM-nya.</p>
<p>Saat itu sebenarnya BCA bukanlah yang pertama memperkenalkan ATM ke nasabah Bank di Indonesia. Bank Bumiputra mengklaim diri sebagai bank yang pertama kali menggunakan ATM di Indonesia. Tapi, menjadi <em>pioneer </em>bukanlah jaminan akan menjadi pemimpin di industri manapun. Gebrakan yang hebat dan menjadi lebih baik akan mengungguli yang biasa, apalagi hanya sekedar yang pertama. Dan BCA pun semakin memperkuat dan mempersenjatai diri dengan teknologi melalui <em>internet banking</em> dan <em>mobile banking</em>. Seperti halnya Google yang bukan anak sulung di industri mesin pencari, kini BCA merupakan bank yang mempunyai nasabah terbanyak yang bergantung pada teknologi.</p>
<p>Dengan keunggulan tersebut, BCA kini menjadi bank dengan pendapatan berbasis biaya (<em>fee based income</em>) yang siginifikan yang prosentasenya terhadap t<em>otal income</em> terus mengalami kenaikan. <em>Fee based income</em> BCA tumbuh 20,9% menjadi Rp 2,1 triliun pada bulan Juni 2009 dari Rp 1,7 triliun pada bulan Juni 2008.</p>
<blockquote><p>&#8220;Tiap bulan, tabungan saya dikenakan biaya administrasi Rp 45,000 oleh BCA.  Sedangkan Bank Mandiri hanya mengutip Rp 9,500&#8243;</p></blockquote>
<p><em>Fee based income </em>adalah pendapatan yang diperoleh bukan dari <em>spread</em>, selisih antara bunga yang didapatkan dari penerima kredit dan bunga yang diberikan kepada penabung. Bagi muslim, pada dasarnya mengenakan bunga atas pinjaman adalah haram. Itu adalah (dianggap) riba, suatu kata yang secara jelas termaktub keharamannya dalam al-quran. Memang kemudian terdapat tafsir yang beragam mengenai kata riba ini. Seperti halnya Yusuf Qardawi yang mengeluarkan fatwa bahwa kredit untuk keperluan produktif itu halal, sedangkan untuk keperluan konsumtif haram.</p>
<p>Dalam <em>bahtsul masail</em>, sebuah forum pembahasan berbagai masalah fiqih terkini, sebagian besar ulama menyatakan bahwa bunga bank adalah haram. Namun semuanya sepakat bahwa mendapatkan upah atas jasa pengelolaan uang adalah halal. Upah/biaya/<em>fee </em>itu misalnya biaya mencatat dan menyimpan catatan (manual atau dengan teknologi database), biaya pengantaran uang (manual atau dengan sistem transfer), menyewakan alat, dan sebagainya.</p>
<p>Apa yang membedakan antara bank syariah dengan bank konvensional adalah tata caranya. Bank konvensional menggunakan akad bunga, sedangkan bank syariah dengan akad bagi hasil, jual beli, dan sebagainya. Tapi pada akhirnya mempunyai <em>result </em>yang sama: ada selisih antara uang lebih (entah dari bunga atau bagi hasil) dari yang mendapat kredit dengan uang lebih yang harus diberikan kepada penabung. Walaupun dengan cara yang berbeda dan mendapat vonis fiqih yang berbeda pula, keduanya sama-sama mendapatkan keuntungan dari &#8220;mengolah&#8221; uang, alih-alih mendapatkan upah atas pengelolaan uang.</p>
<blockquote><p>&#8220;Bahkan bisa jadi bagi hasil yang harus dibayar oleh peminjam kepada bank syariah lebih besar  dari pada bunga yang harus dibayar ke bank konvensional&#8221;</p></blockquote>
<p>Wal hasil, sesuai dengan trennya, BCA semakin lama menggeser pendapatan bunganya dengan pendapatan berbasis biaya. BCA, selain sebagai &#8220;Bank Capek Antri&#8221;, pada suatu saat mungkin bisa juga disebut sebagai &#8220;Bank Cyariah Asia&#8221;, lebih syariah dibandingkan dengan bank-bank lain yang ada nama syariahnya. WalLohu a&#8217;lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/10/26/bca-bank-cyariah-asia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wapres Usul Menara Masjid Disewakan ke Perusahaan Ponsel</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/27/wapres-usul-menara-masjid-disewakan-ke-perusahaan-ponsel/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/27/wapres-usul-menara-masjid-disewakan-ke-perusahaan-ponsel/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 18:48:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[kalla]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[menara]]></category>
		<category><![CDATA[ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[wapres]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas saya salin dari berita yang dipublikasikan oleh detikinet.com. Berikut ini intinya yang ada di paragraf pertama:
Jakarta &#8211; Masjid-masjid di Indonesia yang memiliki menara di atas 30 meter sebaiknya tidak hanya mengandalkan kotak amal sebagai sumber dananya. Masjid bisa memanfaatkan menaranya untuk disewakan kepada perusahaan telepon seluler.
Menurut saya, itu adalah ide yang cerdas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul di atas saya salin dari berita yang dipublikasikan oleh <a title="Wapres Usul Menara Masjid Disewakan ke Perusahaan Ponsel" href="http://www.detikinet.com/read/2009/02/27/175240/1091777/328/wapres-usul-menara-masjid-disewakan-ke-perusahaan-ponsel">detikinet.com</a>. Berikut ini intinya yang ada di paragraf pertama:</p>
<p style="color:#000080;"><em><strong>Jakarta</strong> &#8211; Masjid-masjid di Indonesia yang memiliki menara di atas 30 meter sebaiknya tidak hanya mengandalkan kotak amal sebagai sumber dananya. Masjid bisa memanfaatkan menaranya untuk disewakan kepada perusahaan telepon seluler.</em></p>
<p>Menurut saya, itu adalah ide yang cerdas. Idenya sederhana tapi praktis, efektif dan <em>workable</em>, tidak mengawang-awang jauh dari bumi realita. Ide semacam itu memang tak lepas dari latar belakang Jusuf Kalla yang sebagai pengusaha, yang lebih suka melaksanakan hal-hal praktis dan taktis di lapangan. Maka tak heran jika ada yang menyebutnya &#8220;<em>the real president</em>&#8220;.<span id="more-172"></span></p>
<p>Jika membaca komentar dari berita tersebut di detikinet.com, maka banyak sekali yang menolak dengan tuduhan yang beranek ragam. Berikut ini adalah komentar terakhir yang saya lihat:</p>
<p style="color:#000080;"><strong>Sentot</strong>,  Begini kalau duniawi lebih dominan. Segala hal dihalalkan .</p>
<p style="color:#000080;"><strong>darknight</strong>,  Aya..Aya&#8230;Wae&#8230;</p>
<p style="color:#000080;"><strong>anti oportunis</strong>,  ini agama juga mo dikomersilin. wong gendheng!</p>
<p>Saya jadi heran, apa yang salah dengan ide itu? Sampai saat ini saya tidak mengetahui ada dalil yang mengharamkan optimalisasi utilitas masjid. Bahkan setahu saya, jaman Rosulullah dan Khalifah, masjid adalah pusat berbagai kegiatan (politik, ekonomi, sosial, budaya, dll). Banyak masjid, seperti di masjid UI, yang ada ruang counter untuk menjual barang dagangan, tentunya itu akan memberi manfaat pada kesejahteraan masjid. Bahkan beberapa counter tidak dikelola sendiri oleh pengurus masjid, tapi disewakan kepada pedagang. Lalu apa bedanya dengan menyewakannya ke perusahaan ponsel?</p>
<p>Jangan sampai kita terjebak dalam pemujaan simbol yang berlebihan sehingga lupa akan esensi. Kecuali jika ada yang menyewa menara untuk dipasang tanda salib atau reklame atheisme, maka wajib ditolak. Menara ponsel adalah layanan yang tidak punya muatan ideologis. Satu-satunya &#8220;ideologi&#8221;nya hanyalah uang. Lagi pula, dalam urusan uang semua orang ideologinya sama. Dalam urusan muamalah, tidak ada muslim ataupun kafir. Semua disatukan dengan azas manfaat.</p>
<p>Yang terpenting adalah, bahwa hasil dari penyewaan menara masjid tersebut dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masjid. Tujuan ukhrowi harus disokong oleh usaha duniawi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/27/wapres-usul-menara-masjid-disewakan-ke-perusahaan-ponsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan PKS pun Menyambut Hari Valentine</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/07/dan-pks-pun-menyambut-hari-valentine/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/07/dan-pks-pun-menyambut-hari-valentine/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 06:37:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[pks]]></category>
		<category><![CDATA[politik]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Menarik membaca berita dari okezone yang berjudul &#8220;PKS Rayakan Valentine untuk Jaring Pemilih Pemula&#8220;. Yah, nampaknya PKS sudah mulai berubah, atau setidaknya bergeser dari doktrin yang dibenamkan ke jamaahnya ke ranah baru yang dalam beberapa hal bertolak belakang. Di level jamaah, penolakan pemikiran tokoh pluralis seperti Gus Dur ataupun Nurkholis Majid sangat kuat sehingga dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menarik membaca berita dari okezone yang berjudul &#8220;<a title="PKS Rayakan Valentine untuk Jaring Pemilih Pemula" href="http://pemilu.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/08/267/190574/pks-rayakan-valentine-untuk-jaring-pemilih-pemula">PKS Rayakan Valentine untuk Jaring Pemilih Pemula</a>&#8220;. Yah, nampaknya PKS sudah mulai berubah, atau setidaknya bergeser dari doktrin yang dibenamkan ke jamaahnya ke ranah baru yang dalam beberapa hal bertolak belakang. Di level jamaah, penolakan pemikiran tokoh pluralis seperti Gus Dur ataupun Nurkholis Majid sangat kuat sehingga dengan berlebihan juga menolak tokohnya. Bahkan, beberapa orang berkeyakinan bahwa tokoh-tokoh seperti itu telah kafir, keluar dari islam. Tapi dalam sebuah konggres di Bali, presiden PKS dengan lantang menyatakan bahwa PKS adalah partai pluralis.<span id="more-168"></span></p>
<p>Memang mungkin harus dibedakan antara jamaah dan jamiyah, antara teori dan praktek di lapangan. Selalu saja ada &#8220;penyesuaian&#8221; bahkan penyimpangan apa yang terjadi di lapangan. Itu tidak hanya di PKS, tapi juga di organisasi seperti NU dan Muhammadiyah dan partai politiknya yang bisa jadi lebih parah. Itu bisa terjadi karena desakan kepentingan taktis atau penyelewengan oknum. Sehingga penghianatan terhadap jamaah dan ajaran yang diyakini menjadi halal dan berulang-ulang.</p>
<p>Lagi-lagi PKS sebagai kendaraan taktis melakukan inovasi dengan mengorbankan keyakinannya. Valentine selama ini diyakini sebagai momentum yang diciptakan oleh orang kafir dari sejarah yang penuh dengan maksiat, sehingga merayakannya adalah haram. Tapi &#8220;untungnya&#8221; inovasi ini hanya adri PKS Depok, jadi tidak bisa dianggap sebagai kebijakan partai secara keseluruhan. Tapi bukankan Depok adalah PKS-nya PKS? Mungkin juga dalam waktu dekat akan ada <em>press release</em> yang membantahnya.</p>
<p>Terlepas dari apa yang dilakukan PKS, saya sendiri berkeyakinan bahwa valentine bukan momentum yang haram untuk dirayakan. Itu semua tergantung niat dan cara merayakannya. Saat kelas 2 SMP dulu saya pernah mengadakan acara valentine di sekolah (pertama kali di sebuah sekolah kampung), selain diisi dengan saling tukar hadiah dan beberapa permainan menghibur, juga diisi dengan ceramah agama. (Itu valentine apa tahlilan ya? He he he). Saya merasa mengikuti Sunan Kalijogo yang mengadopsi <em>existing culture</em> untuk penetrasi islam yang diyakininya.</p>
<p>Sekali lagi, tergantung niat dan bagaimana melakukannya. Banyak momentum suci bisa menjadi maksiat karena salah dalam merayakan. Saya juga beberapa kali mendengar dari orang yang mengharamkan valentine, tapi mereka tidak bisa menjaga diri dalam pergaulan. Jadi, kenapa tidak dihalalkan saja dan diisi dengan hal-hal positif?</p>
<p>Kembali ke PKS, saya di satu sisi merasa senag PKS sudah mulai &#8220;inklusif&#8221;, namun masih bertanya2 kenapa harus menghianati keyakinan jamaahnya? Ataukah jangan-jangan saya yang sudah tidak <em>update </em>lagi, kalau ternyata ajaran dalam PKS juga sudah bergeser, tidak hanya langkah politiknya?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>UDATED: 09 Februari 2009</strong></span></p>
<p>AKhirnya DPD PKS Depok membantah. Seperti yang dimuat oleh okezone dalam berita berjudul &#8220;<a title="DPD PKS Depok Bantah Rayakan Valentine" href="http://pemilu.okezone.com/index.php/ReadStory/2009/02/09/267/190840/dpd-pks-depok-bantah-rayakan-valentine">DPD PKS Depok Bantah Rayakan Valentine</a>&#8220;. Yah, PKS tidak merayakannya, tapi menyambutnya. Jadi judul tulisan saya tidak perlu dirubah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/02/07/dan-pks-pun-menyambut-hari-valentine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: The Color of Your Eyes</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/the-color-of-your-eyes/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/the-color-of-your-eyes/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 19:44:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[ajram]]></category>
		<category><![CDATA[nancy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://blog.iqbal.or.id/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-165">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-165" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/the-color-of-your-eyes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protected: Nancy Ajram &#8211; An Ah and a Half</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/nancy-ajram-an-ah-and-a-half/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/nancy-ajram-an-ah-and-a-half/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Jan 2009 19:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Music]]></category>
		<category><![CDATA[ajram]]></category>
		<category><![CDATA[nancy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<form action="http://blog.iqbal.or.id/wp-pass.php" method="post">
<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
<p><label for="pwbox-161">Password:<br />
<input name="post_password" id="pwbox-161" type="password" size="20" /></label><br />
<input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p></form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/26/nancy-ajram-an-ah-and-a-half/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tukang Parkir yang Mengesankan</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/06/tukang-parkir-yang-mengesankan/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/06/tukang-parkir-yang-mengesankan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 17:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[empati]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[parkir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Baru pulang dari daerah Tebet. Naik Sepeda Motor. Habis ketemu temen lama.
Dulu sebenarnya beberapa kali ke tempat itu, tapi kok agak lupa. Soalnya biasanya naik mobil dan ada navigatornya. Ini tadi harus nanya beberapa kali ke orang. Bener juga kata pepatah &#8220;Malu bertanya, gak jadi bertanya&#8221;.  
Seperti biasanya, kalau bertanya tentang arah suatu tempat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru pulang dari daerah Tebet. Naik Sepeda Motor. Habis ketemu temen lama.</p>
<p>Dulu sebenarnya beberapa kali ke tempat itu, tapi kok agak lupa. Soalnya biasanya naik mobil dan ada navigatornya. Ini tadi harus nanya beberapa kali ke orang. Bener juga kata pepatah &#8220;Malu bertanya, gak jadi bertanya&#8221;. <img src='http://blog.iqbal.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Seperti biasanya, kalau bertanya tentang arah suatu tempat, saya mengakhirinya dengan ucapan terima kasih. Dan seperti biasanya juga, pemberi informasi akan menjawab &#8220;sama-sama&#8221;, &#8220;ok&#8221;, &#8220;ya mas&#8221;, atau hanya tersenyum dan mengangguk. Tapi tadi itu agak antik, salah satu rasi bintang penunjuk arahku, seorang tukang parkir, menjawab &#8220;sama-sama mas, ati-ati di jalan ya&#8230;&#8221;.</p>
<p>Ya, sebuah jawaban yang tidak biasa dilontarkan kepada orang seperti saya yang tidak dikenalnya, hanya numpang lewat, dan mungkin hanya mengganggu saja. Sebuah jawaban yang mengalir dari hati yang tulus dan penuh empati. Itu bisa dirasakan, karena kata-kata manis yang hanya keluar begitu saja dari mulut juga akan hanya didengar begitu saja oleh telinga. Kata-kata yang bersumber dari hulu hati, akan sampai di hilir hati pendengarnya.</p>
<p>Terima kasih kepada bapak yang tidak saya tahu namanya. Semoga dengan memnunjukkan jalan kepadaku tadi, panjenengan selalu diberi putunjuk oleh tuhan, terang benderang jalur panjenengan menuju surga kelak. Amin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/06/tukang-parkir-yang-mengesankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merakit Istri</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/04/merakit-istri/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/04/merakit-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jan 2009 17:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Ada rahasia kecil yang ingin saya ungkapkan: saya belum pernah merakit komputer sendiri! Padahal saya ini adalah orang IT. Saya selalu menyerahkan kepada orang lain merakitkan komputer untuk saya. Yah, walaupun sebenarnya kalau tidak ada orang yang mau membantu, saya yakin 100% bisa merakit komputer sendiri. He he he.
Merakit komputer ada seninya tersendiri. Kita terlebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada rahasia kecil yang ingin saya ungkapkan: saya belum pernah merakit komputer sendiri! Padahal saya ini adalah orang IT. Saya selalu menyerahkan kepada orang lain merakitkan komputer untuk saya. Yah, walaupun sebenarnya kalau tidak ada orang yang mau membantu, saya yakin 100% bisa merakit komputer sendiri. He he he.<span id="more-124"></span></p>
<p>Merakit komputer ada seninya tersendiri. Kita terlebih dulu menentukan kriterianya. Untuk keperluan apa, berapa kebutuhan kapasitas penyimpanan, berapa kebutuhan kemampuan pemrosesan data, aksesoris tambahan apa yang harus ada, dan sebagainya. Setelah punya kriteria, tinggal menentukan merek komponen yang sesuai dengan kriteria kita. Misalnya, untuk hardisk pakai Seagate, untuk RAM pakai Visipro, monitor pakai LG, speaker pakai simbadda, dan sebagainya.</p>
<p>Hampir mirip dengan itu, rasanya juga ingin bisa merakit sendiri istri idaman. Kriteria kita tentukan. Mulai dari fisik sampai non fisik. Mulai dari masa lalunya sampai kemungkinan masa depannya. Rasanya ingin bebas merakit: fisik merek si A, kecerdasan merek si B, kepribadian merek si C, kedalaman agama merek si D, dan seterusnya. Untuk orang yg berorientasi fisik semata, mungkin bisa lebih detail lagi: hidung merek si F, mata merek si G, tangan merek si H, dst. Wuih, sampai segitunya ya? <img src='http://blog.iqbal.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':-P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Saya pernah mendengar sepintas seorang artis perempuan menyatakan kriteria suaminya: yang setampan Nabi Yusuf, sekaya Nabi Sulaiman, sebaik Nabi Muhammad. Busyet! tiga nabi mau dirakit jadi satu!</p>
<p>Kenyataannya, istri bukanlah komputer. Adalah suatu hil yang mustahal untuk bisa merakit orang. Manusia itu sudah <em>built up</em>, sudah dari pabriknya begitu, tidak bisa saling mempertukarkan satu komponen dan karakter antar manusia kecuali di film-film. Si A punya kelebihan di sisi satu tapi punya kekurangan di sisi lainnya. Si B, si C, si D semuanya begitu. Bahkan saat mereka dikumpulkan jadi satu pun tidak lantas bisa menghasilkan manusia yang merupakan kombinasi semua kebaikan masing-masing.</p>
<p>Adalah penting bagi yang mencari istri sempurna untuk mengambil cermin dan melihat kenyataan bahwa dirinya juga jauh dari sempurna. <em>Nobody is perfect</em>. Maka kemudian mencari istri yang bisa saling cocok, yang klik kalau pakai istilah sekarang. Selalu timbul pertanyaan baru dari jawaban yang ada. Mengapa sekarang bisa cocok, apakah nanti akan bisa cocok selamanya? Kita akan selalu bingung menentukan kalau begini.</p>
<p>Saya sendiri saat ini percaya pada mekanisme istikhoroh, yang merupakan saluran langsung hamba biasa untuk berkomunikasi dengan tuhannya. Kemampuan indra kita terbatas, tidak bisa menjangkau rahasia tersembunyi dan menembus masa depan. Saya kadang sudah tidak begitu percaya pada pandangan mata, pendengaran telinga, ataupun logika otak sendiri.</p>
<p>Ok, bagi para bujangan yang ingin segera menikah tapi masih punya masalah dengan kemantapan hati, ayo segera buat daftar orang-orang, dan segera tanyakan pada tuhan.</p>
<p># berasa kayak monolog aja&#8230; <img src='http://blog.iqbal.or.id/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/04/merakit-istri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Perempuan Tua yang Naik Haji</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/02/kisah-perempuan-tua-yang-naik-haji/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/02/kisah-perempuan-tua-yang-naik-haji/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 01:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[haji]]></category>
		<category><![CDATA[rasul]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat, saya ingin meneruskan sebuah kisah yang saya dapatkan dari kakak ipar saya. Ini adalah kisah nyata (konon, kata sumber cerita) yang hanya beredar di kalangan terbatas. Demi melihat integritas dan kualitas kakak ipar saya, maka saya bisa mengatakan bahwa tingkat kebenaran kisah ini di atas 90%.
Ini adalah sebuah kisah tentang tekad, ketekunan, keikhlasan, dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat, saya ingin meneruskan sebuah kisah yang saya dapatkan dari kakak ipar saya. Ini adalah kisah nyata (konon, kata sumber cerita) yang hanya beredar di kalangan terbatas. Demi melihat integritas dan kualitas kakak ipar saya, maka saya bisa mengatakan bahwa tingkat kebenaran kisah ini di atas 90%.</p>
<p>Ini adalah sebuah kisah tentang tekad, ketekunan, keikhlasan, dan semangat seorang perempuan tua dari Jawa Timur yang ingin pergi ke baitulLah. Semenjak masih remaja, beliau sudah bertekad ingin pergi haji. Maka dengan bekerja sebagai penjual gorengan, sejak jaman kemerdekaan RI beliau menabung sedikit demi sedikit setiap hari.<span id="more-116"></span></p>
<p>&#8220;Sedikit demi sedikit lama &#8211; lama menjadi bukit&#8221;. Pribahasa itu nampaknya yang diyakini oleh beliau. Namun apa lacur, inflasi yang lebih suka tumbuh secara positif membuat nilai uangnya merosot. Bahkan beberapa kali beliau harus memulai lagi dari awal karena uang yang telah dikumpulkan tak bernilai lagi. Saya menduga, beliau menjadi salah satu korban &#8220;gunting Syafruddin&#8221; tahun 1950-an.</p>
<p>Coba kalian bayangkan, tahun 1980-an, dengan uang 25 rupiah saya sudah bisa membeli nasi di warung. Sekarang, 25 rupiah tinggal kenangan. Tahun 1997 saat pertama kali ke Jakarta, dengan 100 rupiah saya sudah bisa naik bis dari Depok ke Pasar Minggu. Sekarang, pengamen saja akan ngomel-ngomel jika diberi 100 rupiah. Dan seberapa yang bisa ditabung oleh seorang perempuan penjual gorengan sederhana? Seberapa cepat bisa mengejar laju inflasi?</p>
<p>Selalu, Allah lah Sang Penentu yang sebenarnya. Dengan izinNya, pada tahun 2002, perempuan yang sudah mempunyai cucu tersebut bisa ke rumahNya, memenuhi undangan dariNya yang sangat didamba. Tak diceritakan bagaimana atau dari mana biayanya. Saya yakini, jika Allah berkehendak maka tiada yang tak mungkin.</p>
<p>Dan, saat di Madinah di dekat makam RasululLah, beliau bermimpi dalam nyata, seseorang mendatangi dan menyalami. Tahukan kalian siapa yang datang? RasululLah <em>ShollalLahu alaihi wa sallam</em>! SubhanalLah!</p>
<p>Itu adalah momentum yang sangat luar biasa nan agung. Maka para habaib dan auliya yang tajam hatinya segera mengetahui. Mereka berebutan menciumi tangan perempuan tersebut yang wangi bekas jabat tangan RasululLah.</p>
<p>Saat kedatangan di tanah air, jika jamaah haji lainnya ditunggu oleh para sanak saudara, maka perempuan ini ditunggu oleh para habaib. Mereka ingin menghaturkan penghormatan yang tinggi dan ingin mendapatkan barokah kemuliaan dari perempuan luar biasa tersebut. Wangi di tangannya masih ada.</p>
<p>Saya ingin segera melompat dan berlari ke rumah perempuan luar biasa tersebut. Namun kisah ditutup dengan cerita bahwa perempuan tersebut telah berpulang ke rahmatulLah tak lama setelah kepulangannya dari haji. Sungguh akhir yang sangat mulia dan agung. Lebih dari sekedar <em>Husnul khotimah</em>.</p>
<p>Saya hanya bisa berdoa, semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Semoga kami yang hina ini, yang beribadah belum tentu serius, yang bekerja belum tentu benar, yang bersedekah belum tentu ikhlas, bisa mendapatkan hikmah dari teladan beliau.</p>
<p><em>WalLahu a&#8217;lam bishshowab.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2009/01/02/kisah-perempuan-tua-yang-naik-haji/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nguping Jakarta</title>
		<link>http://blog.iqbal.or.id/2008/12/20/nguping-jakarta/</link>
		<comments>http://blog.iqbal.or.id/2008/12/20/nguping-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2008 14:28:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>M. Iqbal Saryuddin A.</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masiqbal.blog.friendster.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Anak: &#8220;Ma, kemarin kenapa rumah kita kena banjir ya?&#8221;
Mama: &#8220;Iya, katanya bendungan deket-deket sini dibuka, jadi airnya meluap ke kita&#8230;&#8221;
Anak: &#8220;Oh, jadinya harus digimanain?&#8221;
Mama: &#8220;Gak tau deh, kayanya harus diilangin aja bendungannya, jadi gak banjir lagi&#8230;&#8221;
Didengar oleh si anak yang kagum atas logika ibu tercinta.
Posted by Nguping Jakarta at 6:08 PM 5 comments
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
Itu tadi adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-weight:bold;">Anak:</span> &#8220;Ma, kemarin kenapa rumah kita kena banjir ya?&#8221;<br />
<span style="font-weight:bold;">Mama:</span> &#8220;Iya, katanya bendungan deket-deket sini dibuka, jadi airnya meluap ke kita&#8230;&#8221;<br />
<span style="font-weight:bold;">Anak:</span> &#8220;Oh, jadinya harus digimanain?&#8221;<br />
<span style="font-weight:bold;">Mama:</span> &#8220;Gak tau deh, kayanya harus diilangin aja bendungannya, jadi gak banjir lagi&#8230;&#8221;<br />
<span style="font-style:italic;">Didengar oleh si anak yang kagum atas logika ibu tercinta.</span><br />
Posted by Nguping Jakarta at<abbr class="published" title="2008-12-19T18:08:00+07:00"> 6:08 PM 5 comments</abbr></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Itu tadi adalah cuplikan perbincangan absurd yang disuguhkan oleh sebuah blog bernama Nguping Jakarta (<a href="http://ngupingjakarta.blogspot.com/">http://ngupingjakarta.blogspot.com</a>). Blog yang terispirasi oleh &#8220;<a href="http://overheardinnewyork.com/">Overheard in New York</a>&#8221; itu menampung banyak pengalaman nyata dari orang-orang yang mendengar hal-hal lucu di Jakarta mulai dari kesleo lidah sampai kesleo otak.</p>
<p>Pertama saya membuka blog tersebut, dengan membayangkan berada pada tempat kejadian perkara, langsung ketawa terus sampai baris akhir. Langsung aja saya bookmark alamatnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.iqbal.or.id/2008/12/20/nguping-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
