2 Jan 2010
Menjadikan Gus Dur Pahlawan Nasional
Sesaat setelah berita wafatnya Gus Dur saya terima dari adik saya yang menjadi santri di Ciganjur, seorang teman dari NU meminta saya untuk menginisiasi sebuah group di facebook mendukung Gus Dur menjadi pahlawan nasional. Sebagai pengagum pemikiran dan kiprah beliau, saya tentunya setuju dengan ide tersebut. Namun saya mengatakan tidak mau membuat group tersebut, tapi saya siap join di group tersebut jika dibentuk. Saya jadi ingat saat dulu ada wanita (yang sekarang menjadi istri saya) menyuruh saya untuk membuat group SMA 2 Kediri. Saya tidak membuatnya. Akhirnya dia sendiri yang membuat group yang sekarang telah diisi sekitar 2000 member tersebut. Dan, tentu saja saya ikut join. Hehehe.
Ada beberapa alasan saya tidak bersedia membuat group mendukung menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Selain saya merasa tidak pantas menginisiasi tugas mulia tersebut, apalagi harus menjadi juru bicara jika ada media yang menanyakan seperti inisiator koin untuk prita (ah, kejauhan kali mikirnya, hehehe), ada sesuatu yang agak mengganjal di pikiran saya.
Ada beberapa kemungkinan seseorang yang telah meninggal dihidupkan kembali melalui berbagai bentuk: predikat, patung, nama jalan, dll. Kemungkinan pertama adalah kemungkinan baik yaitu: untuk menghidupkan gagasan, pikiran, semangat perjuangan seseorang. Atau juga untuk menjaga persatuan di mana tokoh tersebut menjadi pengikatnya. Kemungkinan lain (yang saya tidak tahu ini baik atau tidak) adalah memanfaatkan ketokohan seseorang untuk kepentingan politik tertentu. Salah satunya, pamor tokoh yang telah meninggal terbukti dapat menaikkan siapapun yang terkait dengannya. Presiden kelima kita adalah buktinya.
Kabarnya PKB, PPP, PDI-P, bahkan PD termasuk yang mengusulkan/setuju memberikan predikat pahlawan nasional kepada Gus Dur. Selama masih hidup, Gus Dur memang selalu diperebutkan banyak kalangan untuk mendulang suara. Begitu masifnya rakyat yang ikut hanyut dalam suasana wafat beliau rupanya telah menjadi modal politik yang layak ditabung. Saya tidak begitu rela nama besar Gus Dur dimanfaatkan dengan cara seperti itu, walaupun itu sah-sah saja. Mungkin akan rela kalau untuk kepentingan politik positif, membangun bangsa dan negara. Tapi mata dan telinga saya menyangsikan itu.
Menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional juga tidak seharusnya untuk pengkultusan individu. Bagaimanapun juga, Gus Dur juga manusia biasa yang tentunya bisa berbuat kesalahan, yang walaupun bagi pengikut fanatiknya selalu bisa dicari pembenarannya. Meski begitu, Gus Dur adalah kebanggaan. Bahkan mungkin terlalu kecil gelar pahlawan nasional dibandingkan dengan kiprah beliau yang pengaruhnya menjangkau dunia.
Istri saya (yang entah kesambet apa beberapa tahun terakhir tidak suka sama Gus Dur, hehehe) bertanya: “Emang apa jasa Gus Dur sehingga layak disebut pahlawan nasional?”. Well, banyak orang yang berjasa bagi negara. Tapi layak disebut pahlawan nasional jika jasanya punya pengaruh luas. Gus Dur adalah salah satunya. Pemikiran beliau, kiprah beliau dalam menjaga keharmonisan hidup berbangsa yang majemuk dan rawan konflik ini tak dapat dinafikan. Beliau ulama yang pertama kali memperjuangan nasib perempuan, di tengah dominasi laki-laki yang dinikmati ulama lainnya. Beliau yang berani di depan melawan Soeharto saat yang lain banyak yang bungkam. Masih banyk hal lain tentunya yang telah dilakukan oleh beliau. Terlepas dari kelemahan dan kontroversi yang ada, beliau layak menyandang predikat pahlawan nasional.
Oke lah kalau begitu, walau saya berbeda dengan istri saya, saya suka Gus Dur dia tidak, saya suka Rhoma dia tidak, yang penting saya suka dia dan dia suka saya. Hehehe.

hehehe…….koq aku ikut-ikutan di omongin….tapi kita punya kesamaan: sama-sama suka lagu Arab! =D
Laila Faizah
January 6th, 2010 at 5:39 pmpermalink
xixixixixi…. jadi inget lawakannya Gus Dur… yg begini,
“presiden Indonesia itu terkenal dng kegilaannya,
presiden ke 1 —> gila wanita
presiden ke 2 –> gila harta
presiden ke 3 –> gila teknologi”
lalu kalo presiden ke 4 Gus…?
kalo presiden ke 4 itu ya yang milih itu yg gila, hahahahhaha…..
kang sugeng
February 6th, 2010 at 10:56 pmpermalink