Koran tanpa Kertas

Salah seorang teman yang kini mengelola sebuah media cetak mengeluhkan semakin tingginya biaya produksi terutama kertas. Kertas, yang terbuat dari kayu itu, semakin mahal konon karena bergandengan tangan dengan nilai mata uang asing. Selain itu, jumlah pohon yang ditanam kembali dan kecepatan tumbuhnya tak bisa berpacu dengan jumlah dan kecepatan penebangan hutan. Jika konsumsi kertas yang terus meningkat ini tidak kendalikan, maka bisa-bisa suatu saat Tarzan tidak akan punya lagi ayunan, bumi makin panas, es mencair, pulau tenggelam, dan manusia harus berevolusi jadi ikan!

Salah satu solusinya adalah konversi dari kertas fisik ke kertas elektronis. Dokumen kertas yang bertumpuk-tumpuk bisa masuk ke dalam sebuah media penyimpanan seperti hardisk atau CD/DVD. Dengan bantuan Document Management System seperti yang dikembangkan oleh Transformatika, maka pencarian dokumen akan lebih cepat. Penghematan akan banyak diperoleh dari pengurangan konsumsi kertas dan waktu yang tidak harus terbuang sia-sia.

Industri yang merupakan pelahap kertas terbanyak tentunya adalah penerbitan, terutama sekali yang rutin mencetak seperti koran dan majalah. Kompas, sebagai kelompok penerbitan terbesar di Indonesia, telah mulai memperkenalkan e-paper yang dapat diakses di http://kompas.realviewusa.com (tidak tahu mengapa masih harus menumpang ke realviewusa, padahal seharusnya bisa bikin sendiri). Berbeda dengan edisi online lainnya, di situ kita bisa membaca koran Kompas sama persis dengan edisi cetaknya. Dan yang pasti (saat ini, gak tahu nanti) adalah GRATIS!

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah perusahaan tidak rugi jika tidak ada penjualan? Bukankan pendapatan diperoleh dari berapa banyak eksemplar yang terjual?

Koran yang telah mapan tidak hanya mengandalkan oplah, berapa banyak yang terjual, namun juga berapa banyak yang membaca. Semakin banyak pembacanya, semakin tinggi posisi tawar terhadap pengiklan. Percayakan anda, bahwa bagi Kompas dan Pos Kota, penyumbang pendapatan terbesar bukan pembeli tapi pengiklan?

Pergerakan teknologi semakin cepat dan tak terbendung. Rodanya bakal menggilas siapapun yang tak mampu mengikutinya. Internet sebagai salah satu teknologi yang masif untuk pertukaran informasi, telah mulai mengubah prilaku manusia. Banyak sekali pernik kehidupan manusia telah ada versi virtualnya, mulai dari email, jejaring sosial, hingga kehidupan kedua (dalam game second life). Teknologi selalu menjadi pisau bermata dua, jika tak mampu memanfaatkannya maka akan mati karenanya.

#UPDATE 06 Januari 2009:

Walah, membaca epaper Kompas sekarang harus jadi anggota dulu. Masalahnya, saya sudah daftar tapi sampai sekarang belum jua menerima email aktifasi.

#UPDATE 11 Januari 2009:

Akhirnya…. epaper Kompas memberi jalan bagi pendaftar yang belum mendapatkan email aktifasi. Akhirnya… saya bisa menikmati lagi “kartun benny dan mice”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *