Obrolan di Patas 54

Sudah lama sekali tidak naik Bis Patas 54 Jurusan Grogol-Depok. Sejak mengalami “Post Car-Owner Syndrome” sebulan ini, public transportation menjadi satu-satunya sarana yang bisa saya manfaatkan. Sebenarnya saya adalah orang yang males berkeliaran di jalanan jakarta yang ruwetnya seperti semak belukar. Masalahnya adalah, sebagai manusia yang tidak merdeka dari keterkaitan dengan manusia lainnya, mau tidak mau sesekali harus merentas jalan untuk menunaikan kewajiban sebagai budak sosial.

Terakhir naik Bis Patas 54 seingat saya adalah tahun 2000 ketika mengunjungi tetangga kampung yang berniaga di cengkareng. Dan, setelah sekian lama, akhirnya tadi malam dari Slipi menuju Depok saya kembali merasakan sensasi Patas 54, seperti bis-bis lain di jakarta, yang penuh sesak dengan penumpang. Jadi teringat dengan lagu yang dinyanyikan rocker gaek Ahmad Albar tentang bis kota.

Beruntung sekali saya mendapatkan tempat duduk yang kosong di baris kedua kolom kelima dari kiri (SELECT baris,kolom FROM patas54 WHERE kursi=” ORDER BY urutankursi ASC LIMIT 1 -> result: 2 | 5).  Di samping kanan dan kiri saya adalah:

/* sebelah kanan */

SELECT jeniskelamin, asal, tinggal, pekerjaan, aktifitas FROM  patas54 WHERE baris=2 AND kolom=6

Result: Pria | Purwodadi | Depok | Tukang Cat | Main HP

/* sebelah kiri */

SELECT jeniskelamin, asal, tinggal, pekerjaan, aktifitas FROM  patas54 WHERE baris=2 AND kolom=4

Result: Perempuan | NULL | NULL | NULL | Tidur Pules

Terjadilah percakapan antara saya dengan pria di kanan saya (Mr. X)  sebagai berikut:

————————————————————

Mr. X: Dari mana mas?

Saya: Dari Depok

Mr. X: Maksud saya habis dari mana?

Saya: Ohh… Dari slipi.

(Mikir: yang gak jelas saya atau pertanyaannya ya?)

Mr. X: Slipi-nya mana, mas?

Saya: Tempat sodara.

(Nah loh, padahal saya tidak punya sodara yang rumahnya di Slipi. Tapi saya juga tidak bohong, karena saya memang baru saja mengunjungi sodara yang nginap di Hotel Peninsula Slipi.  Inilah yang disebut dengan Misleading. Bukannya tidak mau beramah tamah, tapi saya agak tidak nyaman kalau ditanya tentang diri saya. Maka cepat-cepat saya memberi pertanyaan balik.)

Saya: Kalau mas, dari mana?

Mr. X: Dari Depok

(Gubrak, lha kok jawabannya gitu. Ini pertanyaan saya yang salah atau memori dia yang sependek sumbu petasan, ya? Kan dia sendiri yang pertama kali bertanya seperti itu. He he he)

Saya: Maksud saya dari mana ini tadi?

Mr. X: Saya dari Jelambar, ada order di sana.

(Saya jadi penasaran, order apaan ya? Order bakso, daging, senjata, nagih utang, pembunuhan, atau apa.. Sebenarnya mungkin agak gak sopan bertanya detail pekerjaan seseorang yang baru dikenal, namun kayaknya dia memberi keyword agar saya bertanya lebih lanjut. Mungkin dia berharap suatu saat saya akan order ke dia.)

Saya: Order apaan, mas?

Mr. X: Order ngecat rumah, mas. Mas, di Depok di mananya?

Saya: Di deket terminal

Mr. X: Di Pesona Khayangan, Gema Pesona, atau apa itu ya, mas?

(Wah, saya lagi males diinterogasi. Kayaknya harus segera dibalik nih. Saya segera melancarkan pertanyaan yang bertubi-tubi untuk membalik situasi. He he he)

Saya: Mas, Depoknya mana?

(Saya tanya aja tanpa menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sebelumnya. Ini yang dinamakan dengan “sepihak”. He he)

Mr. X: Depok Timur, mas.

Saya: Depok Timur dimananya?

Mr. X: Deket pasar *********. Tahu kan mas?

(Saya lupa dia nyebut apa)

Saya: Hmmmm…

(Expresi yang gak jelas dari saya. Saya bermaksud memberi tahu bahwa saya tidak tahu tempat yang disebutnya itu. Tapi mungkin jawaban saya itu bisa dianggap olehnya bahwa saya tahu tempat yang dia maksud. Jadi saya biarkan saja agar masing-masing mendapatkan “kepuasannya” sendiri.)

Saya: Mas, dari Jawa, ya?

Mr. X: Iya

Saya: Jawa-nya mana?

Mr. X: Purwodadi, mas. Kalau mas, Jawa juga kan? Jawa-nya mana?

(Mendadak saya menyesal bertanya asalnya, karena pertanyaan saya itu adalah pertanyaan yang memancing pertanyaan yang sama kepada saya. Maka saya harus segera mengakhiri serangan pertanyaan yang ditujukan kepada saya.)

Saya: Kediri

(Aneh, padahal orang tua saya tinggalnya di Nganjuk, sebuah kabupaten kecil di samping Kediri. Saya sering mengatakan bahwa saya dari kediri karena memang dari SD kelas 6 sampai lulus SMA saya tinggal di Kediri. Lagi pula, Kediri lebih dikenal dari pada Nganjuk. Sehingga saya tidak perlu melayani pertanyaan “Nganjuk itu di mana?”)

Mr. X: Gak mudik, mas?

(Aduh, kok belum berhenti ya serangan pertanyaan ke saya. Salah sendiri memulai tanya-tanya kampung asal tanpa mempersiapkan benteng pertahanan yang kokoh. He he he)

Saya: Kalau mas, mudik gak?

(Lagi-lagi saya bertanya aja tanpa menjawab pertanyaannya sebelumnya. Mungkin inilah yang dimaksudkan oleh pakar strategi bahwa: “Menyerang adalah pertahanan terbaik”)

Mr. X: Saya gak mudik, tapi saya habis lebaran pulang.

(Ada yang aneh? Ya! katanya gak mudik, tapi kok pulang juga? Yang bener mana? Memang “Mudik” yang berasal dari kata “Me-Udik” alias “menuju udik” bagi dia (dan mungkin sebagian kecil orang yang lain) telah mengalami penyempitan makna. “Mudik” hanya untuk mewakili “pulang ke kampung halaman menjelang lebaran idul fitri”. Apakah pulang kampung setelah lebaran tidak termasuk “mudik”? Apakah pulang kampung saat liburan sekolah tidak termasuk “mudik”?

Saya: Kenapa gak mudik, mas?

(Saya jadi terjebak dalam definisi “mudik” versi dia)

Mr. X: Mahal mas. Nanti habis lebaran kalau sudah sepi lebih murah.

(Saya jadi penasaran semahal apakah ke Purwodadi, karena setahu saya kalau naik kereta ekonomi sampai Semarang tidak sampai 50 ribu sudah sampai.)

Saya: Emang habis berapa mas ke Purwodadi?

Mr. X: Bis ke sana sekarang 300ribu. Baliknya 300 ribu. Belum untuk makan di jalan. Ditambah nanti di kampung pasti temen2 minta ditraktir. Jadi 1juta udah pasti habis.

(Ok, 1juta. Jumlah tersebut bagi sebagian orang akan terasa banyak, namun bagi sebagian yang lain bisa dicapai. Nah, orang ini mungkin termasuk dalam orang yang menganggap 1juta adalah angka yang sulit dicapai. Untuk itu saya ingin mengujinya)

Saya: Kenapa gak naik kereta ekonomi saja? Kan gak nyampai 50 ribu ongkosnya?

Mr. X: Wah, kapok, mas. Penuh , gak dapat tempat duduk. Jadi duduknya di bawah, diinjek-injek orang yang lewat.

(Saya mulai menganggap orang ini tidak mudik bukan karena masalah biaya sebagai faktor utama)

Saya: Mas, seandainya di kampung gak nraktir temen-temen, bisa kan?

Mr. X: Ya bisa aja sih.

Saya: Berarti untuk transport aja 600ribu, kan? Sebenarnya lebih milih mana, bisa mudik ketemu keluarga tapi gak bawa apa2, dan gak mudik tapi punya uang banyak?

Mr. X: Ya milih bisa mudik lah

Saya: Nah, sekarang kalau mudik aja dengan ongkos 600ribu bisa gak?

Mr. X: Gak bisa mas.

Saya: Mas, mau gak kerja sehari semalem cuman duduk di lantai dan sesekali disenggol orang dapat 500ribu?

Mr. X: Kerja macam apa tuh?

Saya: Ya itu tadi, duduk aja di lantai…

Mr. X: Emang ada pekerjaan seperti itu? Pekerjaan apa?

(Saya menangkap ada ketertarikan walaupun mungkin hanya sedikit)

Saya: Kayak di kereta ekonomi saat mudik itu…

(Aduh… saya salah! Seharusnya saya memaksa dia menjawab dulu baru mengatakan yang sesungguhnya ingin saya katakan. Dengan keyword “kereta ekonomi” tersebut, saya khawatir dia akan merasa tidak mungkin menarik ucapannya tentang keengganannya naik kereta ekonomi. Wah, ya udah lah… terlanjur…)

Mr. X: Gak mau lah. Saya sekali ngecat aja dapet 500ribu.

(Hmmm… Akhirnya, benar juga. Dia mencabut rasa tertariknya dan bahkan menambahkan penegasan dengan menampilkan potensi dirinya)

Saya: Iya ya? Soalnya kan sama saja toh? Orang misalnya bekerja sebagai buruh kasar sehari dapet 50ribu. Untuk bisa mengumpulkan 600ribu dia harus bekerja selama 12hari. Kalau dia naik bis 600 ribu sama dengan membuang kerja 12hari. Sekarang kan bisa di balik, dia memilih bersusah payah naik kereta sehari semalem untuk tidak mengeluarkan 600 ribu. Berarti dia seakan mendapatkan uang 600ribu dikurangi tiket kereta 100ribu. Dia mendapatkan 500ribu dalam bentuk biaya yang langsung ia keluarkan. Bener gak mas?

(Penjelasan saya serasa hambar karena sudah kehilangan momentum. Seakan hanya mengetuk gerbang benteng yang telah buru-buru ditutup oleh penghuninya)

Mr. X: Iya juga sih.

(Hmmm… jawaban dengan nada yang bermuka dua. Satu sisi dia setuju dengan ide saya, di sisi lain dia ingin mengatakan bahwa ide tersebut tidak untuk diberlakukan padanya)

Saya: Mas, kalau gitu sebenarnya sampeyan bisa mudik hanya cukup dengan 3 hari bekerja mengecat rumah. Ya kan?

(Saya mulai mengujinya dari sisi lain. Di samping itu saya memang ingin terus memposisikannya sebagai “terdakwa”. Jangan sampai dia yang bertanya tentang diri saya, karena saya males menjawab. He he he)

Mr. X: Iya sih. Tapi sekarang saya sedang tidak pegang uang. Pembayaran ditangguhkan.

(Ok, memang bisa jadi. walaupun seseorang berpendapatan besar, belum tentu mempunyai liquid cash. Berarti ujian saya harus masuk dari pintu lain)

Saya: Mas, pernah ikut mudik bareng yang gratis?

Mr. X: Pernah. dulu ikut bisnya Holcim sekali.

Saya: Kenapa sekarang gak ikut lagi?

Mr. X: Gak dapet infonya. Saya sebenarnya mau ikut mudik gratis PDIP, tapi saya belum punya kartu anggotanya. Padahal saya ini pendukung sejati loh.

Saya: Kalau yang ngadain partai lain mau gak?

Mr. X: Partai apa?

Saya: Ya partai apa aja, yang penting kan bisa mudik. Apa bermasalah pada mas, kalau ikut mudik partai lain?

Mr. X: Gak masalah sih. Tapi emang ada?

Saya: Banyak. PPP tahun lalu ngadain. PKB juga. Yang saya tahu persis, sekarang PKB ngadain. Soalnya adik saya ikut. Sampeyan mau?

Mr. X: Berangkatnya dari mana, mas?

Saya: Kayaknya dari kemayoran. Tapi ada satu bis yang berangkat dari Ciganjur, tempatnya Gus Dur. Kan deket dari Depok. Kalau mau saya bisa bantu, gimana?

Mr. X: Kayaknya saya pulangnya habis lebaran aja deh.

Saya: Ohhh… Ya udah…

————————————————————

Bis Patas 54 terus bergerak merayap di tengah kemacetan. Berulangkali terasa gas rem gas rem. Obrolan kami berlanjut ke berbagai hal setelah kemudian senyap di tengah deru kendaraan dan teriakan klakson.

3 thoughts on “Obrolan di Patas 54”

  1. Capek deh…! Blog di FS susah terbaca. Ini sedang tersesat saja boss…
    Ternyata ente hanya malas menjawab tetapi tidak malas menanya. Hahahaha….
    Paling bete deh…! Ditanya dan menanya yang gak jelas juntrungannya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *