Loh, kok telanjang?

Sudah menjadi titah naluri, setiap idul fitri menjelang, orang (Islam Indonesia) berbondong-bondong pulang kampung. Banyak dari mereka yang memaksakan diri dengan cara apapun untuk bisa sampai kampung halamannya. Maka tak heran jika gerbong kereta ekonomi menjadi penuh sesak, bahkan di toiletnya pun orang rela berjubel. Saya jadi teringat pertama kali pulang kampung dari jakarta naik kereta. {wfffhhh….. masuk gerbong berebut, tidak dapat tempat duduk, akhirnya mendapat tempat untuk menaruh badan di deket toilet, tidak bisa mengambil posisi duduk, kalaupun setelah sekian lama bisa duduk malah jadi susah berdiri}.

Banyak alasan orang untuk pulang kampung. Di antaranya adalah (1) Rindu orang-orang di kampung (2) Nostalgia dan reuni (3) Aktualisasi diri atas kesuksesan di kota (4) Tidak tahan dengan kekejaman kota (5) Refreshing dari kepenatan kerja (6) Takut kesepian di kota karena yang lain pada pulang kampung.

Seperti biasa, semakin lama terpisah, semakin terasa hangat dan dekat saat bersama lagi dengan keluarga di kampung. Bapak yang semakin bijaksana dan sufi, ibu yang semakin perhatian dan sabar, kakak yang semakin bahagia, adik2 ada yang sudah besar ada juga yang masih kecil yang lucu, keponakan yang juga lucu2…. Inilah magnet yang begitu kuat menarik saya sehingga betah di kampung hampir tiga minggu.

Saya pulang bersama istri saya yang telah tiga tahun ini setia mendampingi, Siti Laptop NEC Versa S900. Entahlah, walaupun sudah tahu bahwa tidak mungkin melakukan sesuatu yang produktif dengan membawa laptop ke kampung, tapi tanpa laptop di sisi saya rasanya ada yang kurang. Waktu di kampung bakalan habis untuk melakukan aktifitas keluarga dan sosial lainnya. Akhirnya tiga minggu tersebut laptop saya hanya terpakai sebentar untuk memutar musik saja, dan membuka internet sebentar-sebentar.

Bagi orang kampung saya, lagu seperti "magadir", "habibi ya nur aini", "salam min baid", dll merupakan lagu yang sudah akrab di telinga karena sering diputar saat hajatan pernikahan, peringatan maulud nabi, pengajian-pengajian agama. Lagu-lagu yang berbahasa arab tersebut telah menjadi "lagu relijius". Ketika laptop saya memutar lagu-lagu tersebut yang kebetulan ada video klipnya, ibu saya langsung berkomentar: "Kok isinya orang telanjang?". Nah loh!

Bagi ibu saya yang hanya mendengar lagu2 tersebut dari kaset, ketika melihat video klipnya dengan panari latar yang tanpa kerudung dan membiarkan seluruh lengannya terbuka, mungkin terjadi benturan asumsi dan kenyataan. Ternyata lagu2 yang selama ini mengiringi aktifitas keagamaan hanyalah lagu biasa yang kebetulan berbahasa arab, tiada beda dengan lagunya Agnes Monica atau Mulan Kwok. Sehingga dengan standar ibuku, video itu dianggap berisi orang telanjang. Ya Allah yang Maha Suci, mohon lindungi terus ibuku.

Islam bukanlah arab! Arab bukanlah islam! Saya sangat menggemari lagu2 arab bukan karena saya orang islam, tapi karena saya memang menyukai iramanya. Saya menyukai lagu2 yang dinyanyikan Nawal Al Zoghbi, Nancy Ajram, Najwa Karam, dll bukan berarti keislaman yang mereka bawa, dan bahkan saya juga tidak tahu pasti apakah mereka islam atau bukan.

Maka budaya arab bukan serta merta menjadi budaya islam. Seperti halnya wacana wajib tidaknya jilbab. Bagi para perempuan muslimah, saya sih menyarankan dengan sangat agar memakai jilbab. Tapi kalau ada yang mengintimidasi anda agar memakai jilbab, suruh cuci dulu otaknya. Jilbab adalah refleksi kesadaran diri akan  Tuhan. Saya sering miris melihat kenyataan bahwa jilbab bagi beberapa orang hanya menjadi cover kebusukan akhlak. Pakailah jilbab karena Tuhan, wahai orang2 ruwet! Saya sendiri sampai kapanpun menolak untuk memakai jilbab. Ha ha ha.

#iqbal / lebih suka wanita berjilbab

One thought on “Loh, kok telanjang?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *